Tanah Karo

Kapuskesmas Kabanjahe Lancarkan Teory ‘Silat Lidah’

JARINGANEWS.COM / KARO –Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Kapuskesmas) Kabanjahe, dr. Lapan Tarigan, terdeteksi melancarkan teory ‘Silat Lidah’ diduga guna mengelak dari duri serakah yang akhir-akhir ini sudah mulai tercium aroma khas berkesan mencekik hak-hak masyarakat.

Dari beberapa poin dugaan penyimpangan, satu hal terkecil perlakuan yang menonjol ditengah-tengah warga adalah indikasi pungli pakaian kaum orangtua “Lanjut Usia” (Lansia). Miris..! Orangtua dipenghujung nafaspun masih dimanfaatkan jadi objek tambahan uang makan disamping kucuran gaji bulanan.

Fenomena inipun drastis jadi momok buah bibir ditengah-tengah masyarakat khususnya warga Kabanjahe dan sekitarnya. Pasalnya, lagi hangat-hangatnya derita 171 KK pengungsi yang terdeteksi jadi ajang korupsi, justru mencuat lagi tindakan ASN pihak penyelamatan justru terindikasi melakoni penyesatan.

Ini terungkap dari sejumlah sumber intern dan ekstern pihak kesehatan di Kabupaten Karo, Sumut, termasuk pihask keluarga lansia, Rabu, (15/11/2018) kepada JARINGANNEWS, di seputaran Jln Veteran Kabanjahe, Karo, Sumut. Menurut sumber, selain dugaan pungli, masih ada lebih hangat lagi.

Dirincikan sumber, dugaan perlakuan penyimpangan itu berupa kutipan uang dari sejumlah lansia dengan cara paket pertiga orang yang dibebankan sebesar Rp. 800.000.  Namun, hingga bulan lalu, tepatnya Oktober 2018, baju yang diorder 2017 lalu, belum terlihat corak aslinya.

“Konsep kutipan diterapkan per tiga orang pak, jadi, setiap tiga orang dibebani uang senilai Rp. 800.000. Tapi, sampai sekarang bajunya belum ada. Setiap kali ditanya, pihak bersangkutan di Puskesmas mengatakan bahwa pesanan masih dalam proses pengiriman dari luar kota.

Informasi yang membuat kami lebih heran lagi, tercium secuil gosip dari pihak-pihak tertentu khususnya dari kalangan kontrol sosial bahwa dana untuk pembelian baju itu dianggarkan dalam APBD Karo TA 2017. Namun kami tidak tau jumlahnya,” ucap sumber, Rabu, (14/11/2018).

Secara terpisah, Agra Reynold Gurning, S.Ds, kepada JARINGANNEWS, Rabu, (14/11/2018), sekira pukul 18.00 Wib, di Jln Irian Kabanjahe, mengaku, jika hal itu benar adanya, dipastikan sangat fatal resikonya. Karena yang diduga korban perlakuan itu para orangtua yang selayaknya dikasihi.

“Hal-hal seperti ini yang terkadang tidak kita sadari sehingga minimnya kepercayaan masyarakat terhadap kita selaku pengemban tugas pelayan. Jadi, kalau kita runut dari tahun ke tahun soal metode pelayanan pihak ASN di Karo, selalu ada perlakuan ganjil yang luput dari perhatian.

Mohon maaf, saya menilai aparatur kita disini, baik ASN, pihak yudikatif, terutama saudara-saudari kita pihak legislatif tergolong minim kreatif dalam melaksanakan tugas terutama saat menyalurkan anggaran lewat aksi   kegiatan pembangunan. Tatanan lama itu terlalu membudaya.

Tidak pernah sejarah di kampung halaman ini terjadi penerapan istilah “Jual Konsep”. Padahal, konteks system pelayanan itu adalah moment Jual Konsep. Salah satu contoh, untuk nensi pasien sesuai Perda, Rp. 5.000. Nah, kalau ada karya adik-adik dari relokasi, gak salah kan dipasarkan,” ujar Sarjana Disign itu.

Lanjut sosok muda yang melanjutkan pendidikan kejuruan khusus di Australia itu, menurutnya, konsep yang perlu dikaji tentunya bersifat “Simbiosis Mutualisme”.  Dijelaskan, tadinya sang pasien datang mau berobat, justru dapat sekaligus berwisata menikmati karya-karya anak nusantara.

Lagi, refrensi Caleg No. 1 untuk Dapem 1 (Kabanjahe) dari DPC Partai Hanura itu, dikatakan, jarang kita disadari bahwa sebenarnya “Hidup” itu adalah “Menjual”. Segala bentuk tindakan insan sehari-hari itu adalah Menjual, anda bersolek untuk dijual secara sosial untuk umum.

Anda membuat tatto sangar, juga untuk dijual agar yang melihat mentalnya langsung down, kita menggunakan mobil mewah, tetap sama iya juga. Jadi, kalau sudah disadari segala tatanan hidup adalah “Pemasaran”, apa salah kita berinovasi dalam tupoksi yang produktif.

“Sama halnya dengan metode yang diterapkan mantan Gubernur DKI, pak Basuki. Beliau menujual konsep ke jajarannya. Konsep apa? Konsep Simbiosis Mutualisme, daripada diam-diam mencuri, bagusan dikasih, dengan catatan tunjukkan dan berikan dulu karyamu buat rakyat.

Setelah itu, baru anda terima manfaat melebihi dari yang biasanya anda dapat. Jadi, kalau hitung-hitungan apa manfaatnya, kita buat contoh, sebelum terapkan konsep, anggaran bocor (Hilang) 10 Milyar. Setelah konsep, anggaran 10 M tadinya, mengalir kepada yang rajin, lalu yang 5 M lagi kembali ke negara. Jadi, rakyat dapat double manfaat.

Soal regulasinya, itu tinggal koordinasi dengan pihak-pihak pemerintahan setempat guna menganalisis bahan apa yang tepat di Tempat Tempat Umum (TTU) sesuai jenisnya agar tidak bertolak belakang dengan tatanan birokrasi di tempat tersebut. Sederhana kan?,” tutup Agra penuh senyum.

Menanggapi statement Agra Reynold, sejumlah Tokoh Pemuda dan Aktifis LSM di Karo, seperti Esra Barus selaku Ketua PPM, (Pemuda Panca Marga) Kab Karo, Ketua FKPPI Kab Karo, Drs. Alex Sukatendel dan Ketua Satuan Pelajar dan Mahasiswa Ikatan Pemuda Karya (SAPMA IPK), Anugerah Kacaribu, SH.

Selanjutnya, Penasihat Pimpinan Cabang LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (PC LSM KCBI), Kabupaten Karo, Singgalang Leroy Ginting, Rabu, (14/11/2018), di Kabanjahe, mengaku mengacungkan sikap Agra dalam menyikapi dugaan perlakuan minim di Puskesmas Kabanjahe.

Para tokoh pemuda itu juga berharap, agar tidak hanya perlakuan pihak Puskesmas Kabanjahe saja yang perlu diperhatikan akan indikasi-indikasi penyimpangan yang berbuntut kerugian bagi warga. Sesuai pantauan kaca mata mereka, masih banyak instansi pelayanan umum di karo menerapkan hal sama.

“kami sangat bangga dan patut diapresiasi tanggapan atau pernyataan bersifat membangun dari anak kami, sahabat kami,  Agra Reynold Gurning, yang berkenan memberikan pandangan luas berkenaan dengan indikasi perlakuan tidak terpuji di tubuh Puskesmas Kabanjahe, semoga sikap itu terpretahankan,” ujar Singgalang dan Alex, diamini Anugerah K SH serta Esra Barus.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kabanjahe, dr.Lapan Tarigan, saat dihubungi kru Metropublika.com, Rabu, (14/11/2018), tidak berhasil. Namun, pada Minggu lalu, oknum pemilik praktek kesehatan di seputaran Jln. Meriam Ginting itu, terpantau ‘bersilat lidah’ mengaku tidak tau soal kutipan uang pakaian Lansia.

“Sampai saat ini, saya tidak tau soal adanya kutipan pakaian Lansia yang terlaksana pada tahun 2017 yang lalu, kalau soal adanya tertuang anggaran beli pakaian lansia tersebut dalam APBD Karo, TA 2017, itu saya kurang mengetahui. Mungkin bisa saja ada di Dinas Kesehatan Karo,” ujar dr. Lapan. (WP-Korlip-Lamhot Situmorang / Rendy Sinuraya/Timsus).

pasang iklan disini
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Baru update

To Top