Medan – Kota Medan merupakan kota dengan beragam etnis, suku, ras dan agama yang didalamnya selalu hidup rukun dan damai. Meski berbeda keyakinan dan agama namun tak menghalangi untuk membantu memperingati hari besar keagamaan seperti menyambut Natal dan tahun baru.
Budaya inilah yang selalu di tegaskan dan diterapkan oleh Partai Solidaritas Indonesia kepada seluruh kader yang tetap konsisten menciptakan budaya politik toleransi terhadap semua umat beragama terutama kader internalnya.
Dalam rangka menyambut Natal Tahun 2022 dan Tahun Baru 2023, kader PSI baik yang beragama muslim dan non muslim di Kelurahan Tanjung Gusta dan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan bersama-sama merangkai Pohon Natal dengan ukuran 7 meter yang berdiri di daerah pinggiran rel kereta api.
“Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong bersama para kader-kader PSI dengan beragam latar belakang agama dan suku dengan tujuan menyambut Natal dan tahun baru. “Kata Benget Naibaho salah satu pengurus DPW PSI Sumut kepada wartawan. Jumat (09/12).
Benget mengatakan, ikut serta dalam kegiatan menghias pohon Natal dengan bahan dasar kayu itu dibantu oleh sejumlah remaja muslim yang tinggal disekitar lingkungan tersebut.
Pohon yang bentuknya seperti Cemara itu dibuat dengan berbagai ornamen dan pernak pernik serta hiasan lampu yang berwarna-warni dikerjakan bergotong royong secara sukarela menambah semangat kepada masyarakat umat kristiani dalam menyambut Natal dan tahu baru 2023.
“Puji sukur kepada Tuhan berkat semangat gotong royong bersama- sama masyarakat pengerjaan pohon natal selesai dibuat dan sudah berdiri tegak dengan berbagai hiasan dan lampu menambah semangat dan kemeriahan menyambut Natal tahun ini. “Kata Benget.
Dia mengakui, setelah ada pohon natal yang lokasinya berada dipinggiran rel kereta api, beberapa orang juga memanfaatkannya untuk moment berswafoto.
“Tidak masalah, karena kami menghias pohon ini bukan untuk kami sendiri, tapi untuk mengabarkan pada semua bahwa Kota Medan adalah kota yang dalamnya hidup dengan tenang, rukun dan damai. “Medan itu miniaturnya Indonesia ungkap Benget “mengakhiri.